10. Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?” Bahkan (sebenarnya) mereka engkar akan menemui Tuhannya.
11. Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”
12. Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”
13. Dan kalau kami mengkehendaki, nescaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaKu: Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.
14. Maka rasailah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini (Hari Kiamat); sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.
Kepercayaan kepada Hari Kemudian adalah salah satu mesej utama para Rasul (40:15, 42:7). Manusia bukan hanya berhadapan dengan permasalahan untuk mengenali Rabb dan Ilah mereka (6:74-79), tetapi mereka juga sering tertanya-tanya kesudahan yang bakal mereka lalui. Malangnya pengutusan para Rasul ke dunia untuk memecahkan permasalahan-permasalahan ini sering diengkari oleh kebanyakan manusia. Allah swt berfirman menggambarkan kata-kata Nabi Yusuf kepada teman-temannya di penjara:
“Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah sedang mereka engkar kepada Hari Kemudian.” (Yusuf : 37)
Di dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang menggandingkan iman kepada Allah dengan iman kepada Hari Akhirat. Antaranya ialah:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” (An-Nisaa’ : 59)
“Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka,” (At-Taubah : 44)
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya.” (Al-Mujaadilah : 22)
(Ayat-ayat lain termasuklah 2:8,62; 4:39; 5:69; 9:29 dan 24:2)
Di dalam hadith, keimanan kepada Hari Akhirat juga sering dikembarkan dengan keimanan kepada Allah. Contohnya:
“Siapa yang ingin masuk syurga, hendaklah mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan berbuat kepada sesama manusia apa yang ia suka diperbuat orang begitu.” (Muslim)
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian maka jangan mengganggu tetangganya, dan barangsiapa yang beriman dengan Allah dan Hari Kemudian maka hormatilah tetamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian maka hendaklah berkata baik atau diam.” (Bukhari, Muslim)
Peringatan kepada Hari Berbangkit merupakan salah satu bahan tarbiyyah yang terpenting di dalam pembentukan jiwa manusia. Ini jelas pada banyak ayat-ayat Al-Quran dan juga sunnah Rasulullah. Firman-firman Allah, khususnya di peringkat pembinaan aqidah di Mekah banyak menyebutkan hal-hal di Akhirat, menggembirakan simukmin dengan berita syurga dan memberi amaran kepada sikafir tentang kedatangan azab. Hasil dari pendidikan sebegini lahirlah peribadi-peribadi yang terpuji (berbeza dengan orang-orang yang mengingkarinya - 16:60, 23:74).
Mereka tahu bahawa mereka tidak dijadikan untuk dunia, sebaliknya dunia ini disediakan untuk mereka. Mereka meyakini bahawa mereka dijadikan untuk hidup kekal di negeri yang abadi. Setiap musibah yang menimpa mereka di dunia, mereka hadapinya dengan sabar lantas mengembalikan urusan mereka kepada Allah (2:155-157). Bila keimanan mereka digoncangkan (2:214) oleh musuh Islam, mereka mempunyai kekuatan untuk mengatakan:
“Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini sahaja.” (Thaahaa : 72)
Orang-orang yang beriman sering diperingatkan dengan Akhirat bukan sahaja di Mekah, malahan juga di peringkat perlaksanaan bagi aqidah mereka iaitulah (terutamanya) di Madinah. Apabila mereka terasa berat untuk ke Ghazwah Tabuk, Allah swt memperingatkan:
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, ‘Berangkatlah (untuk berjihad) pada jalan Allah’, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di Akhirat? Padahal kehidupan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di Akhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah : 38)
(Sila lihat 62:11)
Di ketika yang lain Allah berfirman:
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah orang-orang yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (Faathir : 5)
(Sila lihat 4:77, 6:32, 13:26, 28:60, 40:39, 42:36, 47:36)
Orang-orang yang beriman memahami bahawa dunia hanyalah tempat persinggahan, sementara Akhiratlah tempat tujuan. Firman Allah:
“Ketahuilah bahawa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengkagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudiannya menjadi hancur. Dan di Akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keredhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadiid : 20)
(Sila lihat 3:14, 18:46)
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya Akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabuut : 64)
“Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: ‘Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari sahaja.’” (Thaahaa : 104)
Selepas menjalani kehidupan di dunia, manusia pasti dibangkitkan untuk menemui Tuhan mereka; samada mereka suka atau tidak, samada percaya atau mengingkari.
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan bersungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemuiNya.” (Al-Insyiqaaq : 6)
(Sila lihat 4:87, 40:59, 45:26)
Dunia adalah alam impian dan Akhirat itulah sebenarnya alam sedar, sedangkan mati merupakan jambatannya. Maut merupakan noktah terakhir bagi kehidupan manusia di dunia, menandakan kedatangan alam yang baru iaitu alam Akhirat. Allah berfirman:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cubaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiyaa’ : 35)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sahajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari nerakadan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran : 185)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (Al-Ankabuut : 57)
Sebahagian manusia diwafatkan dalam keadaan yang baik (16:32); manakala sebahagian yang lain dimatikan dalam keadaan menzalimi diri mereka sendiri:
“Orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata): ‘Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun.’ (Malaikat menjawab): ‘Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan.’” (An-Nahl : 28)
“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) : ‘Keluarkanlah nyawamu.’” (Al-An’aam : 93)
(Sila lihat 7:37, 8:50, 47:27)
Manusia dibangkitkan kembali dari alam kubur kepada alam yang kekal (99:6). Hari Kiamat itu berlaku dalam masa yang sekejap mata, atau lebih cepat dari itu (16:77). Setiap manusia mengadap Allah swt sendiri-sendiri (6:94, 19:95). Ada wajah yang putih berseri dan ada wajah yang hitam muram (3:106, 80:38-42). Itulah hari yang bermanfaat kebenaran orang yang benar (5:119). Di hari itu tidaklah bermanfaat harta dan anak lelaki, melainkan orang-orang yang mengadap Allah dengan hati yang bersih (26:88-89).
Di saat itu terasa bagi mereka kesebentaran hidup di dunia. Allah swt menggambarkan:
“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (Yunus : 45)
“Pada hari mereka melihat Hari Berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu petang atau pagi hari.” (An-Naazi’aat : 46)
(Sila lihat 46:35)
Malahan ada di antara manusia yang ingin sekiranya mereka dijauhkan daripada hari itu:
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (ke hadapannya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hambaNya.” (Ali Imran : 30)
Di hari itu dikhabarkan kepada manusia apa yang ia telah lakukan dan apa yang ia alpakan (75:13, 82:5); tidak ditinggalkan darinya dari perkara yang sekecil-kecil hinggalah kepada yang sebesar-besarnya. Firman Allah:
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata : ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya’; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (Al-Kahfi : 49)
(Sila lihat 54:52-53)
Di hari itulah juga setiap anggota tubuh badan menjadi saksi ke atas apa yang telah dilakukan.
“Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (An-Nuur : 24)
(Sila lihat 41:21-22)
Di kala itu seorang bapa tidak dapat menolong anaknya, begitu juga seorang anak tidak dapat menolong bapanya (31:33). Teman yang karib pula tidak dapat menolong sahabatnya (44:41), bahkan tidak bertanya khabar (70:10). Ada teman rapat yang di hari itu menjadi musuh bagi taulannya.
“Teman-teman akrab pada hari itu sebahagiannya menjadi musuh bagi sebahagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az-Zukhruf : 67)
Itulah negeri Akhirat yang kebahagiaannya diperuntukkan untuk orang-orang yang tertentu sahaja.
“Negeri Akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerosakan di (muka)bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Qashash : 83)
Manusia tidak dapat mengengkari dengan hati mereka akan kewujudan Allah swt. Telah menjadi fitrah mereka untuk mempercayai adanya suatu kuasa yang mengaturkan perjalanan alam ini. Semasa di alam roh lagi mereka mengakui Rububiyyah Allah Taala (7:172-173). Atheis lebih terletak di bibir mulut daripada dalam hati manusia (Francis Bacon). Pada hari malam semua atheis percayakan Tuhan (Carl Young). Malah kaum musyrikin Mekah beranggapan penyembahan mereka terhadap berhala adalah untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah (39:3).
Namun demikian, adalah berat bagi manusia, selain dari orang-orang yang beriman, untuk mempercayai kehidupan yang kedua di Akhirat kelak. Daripada dahulu hinggalah sekarang hari tersebut didustakan. Ada juga ugama atau pegangan yang menolak kebangkitan di Hari Kemudian, antaranya Hindu dan Jehovah Witnesses (satu pecahan dari ugama Kristian) yeng mempercayai kehidupan semula dalam bentuk yang lain. Nabi Ibrahim as sendiri pernah meminta Allah menunjukkan bagaimana manusia dihidupkan setelah mati. Allah swt menceritakan:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.’ Allah berfirman: ‘Apakah kamu belum percaya?’ Ibrahim menjawab: ‘Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya.’” (Al-Baqarah : 260)
Sebahagian manusia merasa hairan memikirkan bagaimana manusia yang mati, tubuh badan mereka hancur bersama tanah akan dibangkitkan dalam bentuk yang asal. Allah berfirman:
“Dan jika (ada sesuatu) yang kamu hairankan, maka yang patut menghairankan adalah ucapan mereka: ‘Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?’ Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Ar-Ra’d : 5)
(Sila lihat 17:49-51, 36:78-79, 75:3-4)
Orang-orang kafir benar-benar tidak mempercayai kedatangan hari tersebut:
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: ‘Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.’ (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (An-Nahl : 38)
“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia sahaja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga sahaja.” (Al-Jaatsiyah : 24)
(Sila lihat 23:37, 41:54, 45:32)
Mereka itulah yang Allah sifatkan sebagai:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) Akhirat adalah lalai.” (Ar-Ruum : 7)
Pelbagai hujjah dikemukakan oleh orang-orang yang mengengkari Hari Kebangkitan semula. Umpamanya Allah swt menceritakan:
“Sesungguhnya mereka (kaum musyrikin) itu benar-benar berkata: ‘ Tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan, maka datangkanlah (kembali) bapak-bapak kami jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Ad-Dukhaan : 34-36)
“Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.” (Qaaf : 3)
Dengan keengkaran ini mereka berani mencabar agar hari tersebut didatangkan dengan segera:
“Orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahawa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahawa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.” (Asu-Syura : 18)
Tidak ada jawapan yang tepat untuk membantah keengkaran orang-orang yang tertutup hati mereka itu, melainkan dengan ucapan yang diajar oleh Allah Taala:
“Katakanlah: ‘Masing-masing kita menanti, maka nantikanlah oleh kamu sekalian! Maka kamu kelak akan mengetahui, siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk.’” (Thaahaa : 135)
“Maka tunggulah, sesungguhnya mereka itu menunggu (pula).” (Ad- Dukhaan : 59)
Mereka menanti hinggalah ke hari yang jelas kepada mereka bahawa merekalah yang tewas:
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahawa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (Ibrahim : 42)
Mereka sebenarnya merasakan kedatangan hari tersebut adalah mustahil, padahal di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman, ia bakal terjadi (70:6-7)
Manusia dibangkitkan sebagaimana yang dijanjikan, dalam bentuk mereka di dunia dahulu:
“Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada kali pertama; bahkan kamu mengatakan bahawa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (memenuhi) perjanjian.” (Al-Kahfi : 48)
Lantas dikatakan kepada orang-orang yang mendustakan kedatangan hari itu:
“Ketika mereka melihat azab (pada Hari Kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka) inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.” (Al-Mulk : 27)
Bermacam jenis orang yang menyesal. Ada orang menyesal setelah melakukan kesalahan pada masa sesalan mereka itu bermanfaat, mereka beroleh keampunan dari Allah swt (3:135). Ada pula orang yang menyesal dan menyatakan keimanan setelah nyawa mereka berada di tenggorok (10:90) atau di Hari Pembalasan. Malang bagi mereka, sesalan mereka itu sudah tidak ada gunanya. Orang-orang yang pada masa hidup mereka di dunia tidak mahu mengikut petunjuk daripada Allah, meminta dengan permintaan yang sungguh-sungguh agar mereka dikembalikan ke dunia. Mereka mengaku bahawa hidup mereka yang baru itu akan dilalui dengan baik, berbeza dengan kehidupan yang mereka telah alami.
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami nescaya kami akan mengerjakan amal yang saleh, berlainan dengan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (Faathir : 37)
(Sila lihat 6:27,31, 14:44, 23:99-100, 40:11,18)
Walau bagaimanapun sebenarnya kalau mereka dikembalikan ke dunia, sudah pasti mereka akan tetap melakukan kezaliman yang biasa mereka lakukan dan mengingkari apa yang pernah diingkari.
“Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.’” (Al-An’aam : 28-29)
Penyesalan di hari tersebut sama sekali tidak bermanfaat untuk mereka:
“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (Ar-Ruum : 57)
Allah menggambarkan penyesalan mereka:
“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (An-Nabaa’ : 40)
Pada Hari Penyesalan itu Allah melupakan mereka, membiarkan mereka di dalam keazaban sebagaimana mereka melupakan (mengingkari) hari itu.
“Maka pada hari (Kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan sebagaimana mereka selalu mengengkari ayat-ayat Kami.” (Al-A’raaf : 51)
(Sila lihat 45:34)
“Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, kerana mereka melupakan Hari Perhitungan.” (Shaad : 26)
Alangkah azabnya kehidupan mereka di hari itu. Allah swt menggambarkan:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’ : 56)
(Sila lihat 14:15-17, 20:74, 44:43-49, 87:13)
Rasulullah saw juga menggambarkan:
“Seringan-ringan siksa ahli neraka pada Hari Kiamat ialah orang yang diletakkan di bawah tumitnya dua bara api yang cukup mendidihkan otaknya. Ia merasakan tidak ada orang lain yang lebih berat siksa daripadanya, padahal itu yang paling ringan siksanya.” (Bukhari, Muslim)
Allah menggambarkan kata-kata segolongan mereka kepada yang lain:
“Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (Ibrahim : 21)
Oleh kerana mereka tidak tahan tinggal di dalam neraka, mereka ingin keluar daripadanya, tetapi sudah pasti keinginan mereka itu tidak akan tercapai.
“Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, nescaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan); ‘Rasakanlah azab yang membakar ini.’” (Al-Hajj : 22)
(Sila lihat 5:37, 40:49, 43:77)
Sesungguhnya kebencian Allah kepada mereka di hari itu melebihi daripada kebencian mereka terhadap diri mereka sendiri (40:10). Mereka kekal di dalam keazaban itu selama yang dikehendaki Allah swt (6:128, 11:107). Demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang mengingkari Allah dari Hari Akhirat. Binasalah hidup dan amalan mereka.
“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’aam : 45)
(Sila lihat 14:18, 18:103-104)
Walaupun azab Akhirat bukanlah disediakan untuk orang-orang yang beriman, namun seharusnyalah mereka sentiasa menanamkan rasa takut kepadanya.
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab Akhirat.” (Huud : 103)
“Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hambaNya dengan azab itu. Maka bertaqwalah kepadaKu hai hamba-hambaKu.” (Az-Zumar : 16)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr : 18)
Pernah seorang yang saleh, sewaktu kedahagaan, mengetuk pintu rumah seseorang untuk meminta air. Setelah dihulurkan air kepadanya, tiba-tiba ia pingsan. Apabila sedar ia memberitahu bahawa ia teringatkan ayat:
“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: ‘Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.’” (Al-A’raaf : 50)
Peringatan kepada Hari Berbangkit ini sewajarnya dapat melahirkan individu-individu yang sentiasa mengawasi diri, agar mereka sentiasa berada di dalam petunjuk Allah - Islam.
“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi : 110)
“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyedarinya.” (Az-Zumar : 55)
Hanya Allahlah Tuhan yang memberi petunjuk kepada manusia. Sekiranya Ia kehendaki nescaya dihidayatkan semua manusia di mukabumi ini, lantas mereka keseluruhannya beriman kepada mesej yang disampaikan oleh para da’i (6:49, 10:99). Walau bagaimanapun telah menjadi ketentuanNya bahawa sebahagian dari makhlukNya bakal dimasukkan ke dalam syurga dan sebahagian lagi dihumbankan ke dalam neraka.
Rasulullah dan para da’i yang lain hanya bertanggungjawab untuk menyampaikan risalahNya. Mereka sama sekali bukanlah pemberi taufik kepada manusia (2:272). Mereka tidak mampu memberi hidayat kepada sesiapa sahaja hatta orang yang dikasihinya (28:56), walau ia benar-benar berharap seseorangitu bakal menerima petunjuk (12:103, 16:37). Segala kekuasaan hanyalah milik Allah semata-mata.
“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa mengkehendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mengkehendaki (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Insaan : 29-30)
(Sila lihat 7:178, 74:55-56)
Para penyeru kepada Allah hanya mampu memberi peringatan kepada orang yang mahu mengikuti peringatan (35:18, 36:11, 50:33, 67:12). Mereka itulah orang-orang yang telah dibukakan hati mereka untuk menikmati dan menerima Islam (6:125).
“Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepadaNyalah mereka dikembalikan.” (Al-An’aam : 36)
(Sila lihat 27:81)
Di antara manusia yang engkar itu ada yang mendengar penyampaian para Rasul dan para da’i (6:25, 10:42, 27:80-81, 30:52-53, 43:40). Malah ada yang menyatakan bahawa mereka mendengarkan padahal mereka tidak sedemikian (8:21). Walaupun pelbagai hujjah dan bukti dikemukakan kepada mereka, mereka tetap tidak mahu tunduk kepada kebenaran.
“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah mengkehendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Al-An’aam : 111)
“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: ‘Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir.’” (Al-Hijr : 14-15)
Mereka yang telah tertutup hati itu hanya mahu mengikuti jalan kesesatan semata-mata. Mereka hanya bergembira dengan kesesatan yang mereka ikuti itu. Allah swt berfirman:
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di mukabumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaanKu. Mereka jika melihat tiap-tiap (ayat)Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mahu menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya.” (Al-A’raaf : 146)
“Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan Akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (Az-Zumar : 45)
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri Akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan).” (An-Naml : 4)
Maha Suci Allah, Tuhan Yang Maha Adil. Dia tidak mungkin berlaku zalim kepada sesiapa sahaja di antara hamba-hambaNya. Sebaliknya manusialah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri di atas ketiadaan hidayat daripada Allah.
“Allah tidak menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Ali Imran : 117)
(Sila lihat 4:40, 9:70, 16:33, 29:40, 30:9, 43:76)
Tanda-tanda keagungan Allah swt telah tersedia untuk makhluk-makhlukNya mengambil pengiktibaran (10:101, 22:46). Oleh kerana keangkuhan, mereka tidak memanfaatkan tanda-tanda tersebut. Mereka juga tidak mempergunakan akal mereka untuk memikirkan petunjuk-petunjuk dari Allah (10:100, 67:10). Di samping itu mereka membatukan hati mereka daripada mengingati Allah (39:22). Syaitan yang sepatutnya mereka jadikan musuh menjadi penunjuk jalan kesesatan kepada mereka (7:30). Dengan sombong mereka mengakui:
“Dan mereka berkata: ‘Hati kami tertutup.’ Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka kerana keengkaran mereka; maka sedikit sekali mereka beriman.” (Al-Baqarah : 88)
Berbeza dengan orang-orang kafir itu, orang-orang yang beriman beroleh hidayat daripada Allah swt. Allah memberi petunjuk kepada mereka di atas sifat-sifat baik yang ada pada mereka. Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka kerana keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.” (Yunus : 9)
Ya, mereka yang beriman beroleh kenikmatan daripada Allah swt, manakala orang-orang yang mengengkari pasti berada di dalam keazaban.
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maa-idah : 118)
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (An-Najm : 29)
“Barangsiapa yang mengkehendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang mengkehendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan bersungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Al-Israa’ : 18-19)
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakannya, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (iaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat bakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di Hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (Ali Imran : 192-194)